Cara membuat swap file pada linux

Ilustrasi swap. Sumber : Make tech easier

Swap adalah bagian dari hard disk yang ditujukan sebagai tempat penyimpanan sementara saat RAM sudah penuh. Ketika komputer sudah kehabisan memori, kernel bisa memindahkan program yang sedang tidak berjalan ke swap, untuk memberikan tempat kepada program lain yang membutuhkan.

Pada saat menginstal linux, biasanya diminta untuk membuat space swap, atau warning ini akan muncul.

Kadang kadang kamu continue saja karena belum perlu, atau mungkin kasusnya lain. Seperti misalnya, Vultr, Google Cloud, dan DigitalOcean gak ada yang ngasih swap space walaupun kamu perlu!

Kali ini kita akan buat swap file (bukan swap space seperti pas instalasi). Swap file sendiri tidak membuat partisi baru di dalam komputer, dan kalau suatu saat kamu ga perlu lagi swapnya, gampang hapusnya.

Pertama, kamu perlu buka terminal sebagai root. Kalau di desktop, bisa lakukan sudo -s. Kalau VPS, SSH saja sebagai root, atau sudo -s juga.

Kalau dicek dengan command free, bisa dilihat kalau swap masih gak ada.

Sekarang, aku mau buat swap berukuran 2GB.

sudo dd if=/dev/zero of=/swapfile bs=1024 count=2048k

count= bisa diganti dengan ukuran file. 512k berarti 512MB, 1024k berarti 1 GB, dan seterusnya.

Setelah itu, kita akan format filenya jadi swapfile.

sudo mkswap /swapfile

Sekarang, hidupkan swap filenya dengan swapon.

sudo swapon /swapfile

Sekarang, ketika dicek dengan free, harusnya sudah ada swapnya.

Sekarang, kamu bisa menjalankan command ini supaya swapfile nya auto mount ketika mesin baru dihidupkan.

sudo echo "/swapfile none swap sw 0 0" >> /etc/fstab

Kalau dicek di /etc/fstab sekarang harusnya sudah ada line untuk swapfile.

Selamat, sekarang kamu sudah punya swap! Lalu seandainya mau dihapus, bagaimana caranya?

Pertama, kamu harus swapoff dulu untuk mematikan swapnya.

sudo swapoff /swapfile

Kemudian, kamu bisa hapus filenya.

sudo rm /swapfile

Terakhir, hapus linenya dari /etc/fstab. Aku lebih suka pakai nano buat menghapusnya. Untuk mengexit nano, gunakan CTRL + X.

nano /etc/fstab

Selesai deh.

 

Source

Ableton Tutorial – Graceful Patch Switching

Kapan ya terakhir kali aku upload tutorial musik? Udah lama banget kayaknya ya.
Ya mau gimana lagi, kesibukan kuliah benar benar menyita waktu, dan tutorial yang ada belakangan ini lebih mirip catatan kuliah ketimbang tutorial :hammers

Kali ini, kita akan bahas graceful patch switching pada Ableton. Bahasa Indonesianya apa ya :hammers Intinya, graceful patch switching adalah perpindahan antar VST yang cepat, natural, tanpa loading (semoga), dan indah. Graceful sendiri artinya adalah anggun.

Bukan Anggun yang ini

Tutorial ini sendiri diharapkan bisa bermanfaat bagi kamu yang pakai Ableton dimanapun. Terutama di gereja, karena di gereja, sering sekali ada lagu tiba tiba yang sama sekali tidak disiapkan, dan kamu harus main live. Dan kalau ableton mu isinya sequencer semua, bisa bisa malah kacau.

Oke, langsung aja. Diharapkan setelah ini, begini cara kamu mempersiapkan project.

Pertama, buka Ableton Live nya.

Seperti biasa, ada 4 track default disitu. Sekarang hapus semua Audio tracknya.

Kita akan membuat track 1 untuk kumpulan suara piano. Masukkan Instrument Rack pada track 1.

… kemudian masukkan Pianonya pada track 2. Boleh tambah track lain kalau perlu.
Dalam contoh ini, aku tambahkan 1 lagi track MIDI, untuk The Giant dan The Grandeur.

Sekarang, kembali ke track 1. Klik menunya, lalu buka Chain.

Lalu, masukkan External Instruments. MIDI To, pilih ke The Grandeur.

Perhatikan pada chain, ada garis kecil pada titik 0. Artinya, The Grandeur akan berbunyi ketika nilai chain adalah 0. Dan juga ada titik warna orange, yang berarti chain sekarang bernilai 0. Kalau kamu mainkan keyboard sekarang maka The Grandeur harusnya bunyi.

Ini tidak bagus, SELALU buat nilai 0 sebagai off. Caranya, kamu geser garis biru itu dengan mouse supaya dia tinggal bernilai 1.

Sekarang harusnya The Grandeur tidak bunyi. Coba pindah chain selectornya ke 1.

Sekarang harusnya dia berbunyi. Lanjut, kita akan masukkan The Giant ke chain nomor 2.
Caranya sama, tambahkan external instruments baru, arahkan ke The Giant, lalu tarik chain nya ke nomor 2.

Hasil akhirnya seperti ini.

The Giant akan hidup jika chain selector dipindah ke nomor 2. Pada gambar di atas, chain selector ada pada The Grandeur. Note on dan off akan tetap dikirim pada tempatnya, jadi kalau kamu mensustain note pada The Grandeur, lalu kamu pindah ke The Giant lalu sustain off, The Grandeur akan tetap mati secara natural.

Mau tambah instruments lagi? Bisa. Chain Selector bisa sampai 127 (sesuai nilai MIDI), dan kalaupun sudah habis … Tambah saja MIDI track baru.

Dan kemudian masalah baru muncul kalau kamu pakai Instruments nya ableton (bukan VST).

Perhatikan kalau Analog tidak muncul pada External Instruments. Solusinya adalah, jangan pakai External Instruments. Langsung letak Analognya disitu.

Ini bukan berarti jadi solusi untuk segalanya. Kalau gini, kamu ga bisa pakai Send effects, karena kalau kamu pakai Send, semua yang tidak memakai External Instruments akan kena send. Solusinya, gunakan effect yang punya kemampuan wet/dry signal. Tapi gak semua effect punya.

Tujuan menggunakan External Instruments disini adalah, untuk menambah fleksibilitas effect dan juga bisa untuk mengurangi memori. Satu instance kontakt menggunakan 80mb, dan sebenarnya The Grandeur dan The Giant bisa digabung dalam satu instance. Hanya saja, untuk memisahkan 2 instrument kontakt dalam 1 plugin ke dalam 2 track mixer, agak susah. Kapan kapan saja kita bahas di posting lainnya.

Lanjut, sekarang gimana cara manggil patch dengan mudah?
Pertama, akan sangat sangat membantu kalau kamu punya Launchpad, walau yang termurah sekalipun.

Ini yang nomor 2 termahal.

Inilah kegunaan launchpad yang sesungguhnya, alasan pertama kali dia diciptakan. Bukan untuk Kaskobi.

(Serius, bantuin aku beli Launchpad dong. Aku kere, bahkan Live Suite punyaku aja versi educational, yang khusus pelajar / mahasiswa. Belinya bekas lagi. )

Oke, sudah sudah. Cukup ngirinya sama orang.

Balik ke Ableton, double click pada salah satu scene, untuk buat scene baru. 

Lihat, scene baru sudah dibuat.

Buka halaman Launch sama Envelope dibawah.

Cek pada Launch -> Quantization.
None berarti clip langsung dijalankan begitu ditekan.
Global biasanya clip akan dijalankan pada ketukan pertama dalam bar.
Sisanya, bergantung pada ketukan juga. Karena kita akan buat patch switching, kita buat ke None. (kecuali kamu lagi bikin sequencer dan auto change program, beda cerita)

Lanjut ke Envelopes, pilih Instrument Rack dan Chain Selector.

Klik pada garis merah untuk memindahkan nilainya. Misalnya, 0 buat mati.

Diatas akan selalu ada nilai chain nya, yang akan membantu kamu. Jadi ga perlu ngira ngira.

Kembali ke clip launcher, klik clipnya, Klik kanan lalu Rename. Ganti namanya jadi Off.

Clip ini bisa di copy paste, lalu diubah nilai chain nya. Begini hasil akhirnya nanti.

Begitu ditekan, patch akan berubah langsung tanpa nunggu.

Lanjut, kamu juga bisa buat instrument rack lagi buat yang lain, misalnya khusus Rhodes dan FM E Piano. Atau untuk Strings dan Brass. Atau apalah, kemungkinannya tidak ada batas.

Kalau kamu punya Launchpad, bersyukurlah! Tinggal colok, maka patch switching nya bisa dijalankan dengan Launchpad! Kalau kamu miskin seperti saya, ada jalan lain.

  1. Kamu bisa computer keyboard mapping.
  2. Kamu bisa pakai MIDI mapping.

Pertama, computer keyboard mapping dulu buat yang benar benar miskin. Klik Key di ujung atas kanan Ableton.

Lalu, klik pada salah satu clip, lalu tekan salah satu tombol pada keyboard.

Contoh hasilnya sebagai berikut. Tekan Q, maka keys akan off. Tekan S, maka The Grandeur akan berbunyi, dan seterusnya.

MIDI mapping juga mirip. Gunakan controller MIDI yang murah, lalu aktifkan Remote pada preferences.

Cara mappingnya pun mirip. Kalau tadi click key, sekarang click MIDI di sebelahnya.

Lalu akan muncul seperti ini.

Klik pada salah satu clip, lalu tekan tombol pada MIDI controller. Setelah itu, MIDI clip tersebut bisa dipanggil dengan tombol itu.

Lalu, untuk peletakan MIDI effect. Buat instruments baru pada Instrument Rack, lalu tambahkan MIDI effect di depannya. Dan untuk meletakkan Audio effect, JANGAN PERNAH letakkan Audio effect langsung diluar instrument rack! Letakkan Audio effect setelah instrument. Yang berarti jika kamu memakai External Instruments, letakkan setelah VST.

Sekian tutorial hari ini. :)

Source

Ableton Tutorial – Graceful Patch Switching

Kapan ya terakhir kali aku upload tutorial musik? Udah lama banget kayaknya ya.
Ya mau gimana lagi, kesibukan kuliah benar benar menyita waktu, dan tutorial yang ada belakangan ini lebih mirip catatan kuliah ketimbang tutorial :hammers

Kali ini, kita akan bahas graceful patch switching pada Ableton. Bahasa Indonesianya apa ya :hammers Intinya, graceful patch switching adalah perpindahan antar VST yang cepat, natural, tanpa loading (semoga), dan indah. Graceful sendiri artinya adalah anggun.

Bukan Anggun yang ini

Tutorial ini sendiri diharapkan bisa bermanfaat bagi kamu yang pakai Ableton dimanapun. Terutama di gereja, karena di gereja, sering sekali ada lagu tiba tiba yang sama sekali tidak disiapkan, dan kamu harus main live. Dan kalau ableton mu isinya sequencer semua, bisa bisa malah kacau.

Oke, langsung aja. Diharapkan setelah ini, begini cara kamu mempersiapkan track.

Pertama, buka Ableton Live nya.

Seperti biasa, ada 4 track default disitu. Sekarang hapus semua Audio tracknya.

Kita akan membuat track 1 untuk kumpulan suara piano. Masukkan Instrument Rack pada track 1.

… kemudian masukkan Pianonya pada track 2. Boleh tambah track lain kalau perlu.
Dalam contoh ini, aku tambahkan 1 lagi track MIDI, untuk The Giant dan The Grandeur.

Sekarang, kembali ke track 1. Klik menunya, lalu buka Chain.

Lalu, masukkan External Instruments. MIDI To, pilih ke The Grandeur.

Perhatikan pada chain, ada garis kecil pada titik 0. Artinya, The Grandeur akan berbunyi ketika nilai chain adalah 0. Dan juga ada titik warna orange, yang berarti chain sekarang bernilai 0. Kalau kamu mainkan keyboard sekarang maka The Grandeur harusnya bunyi.

Ini tidak bagus, SELALU buat nilai 0 sebagai off. Caranya, kamu geser garis biru itu dengan mouse supaya dia tinggal bernilai 1.

Sekarang harusnya The Grandeur tidak bunyi. Coba pindah chain selectornya ke 1.

Sekarang harusnya dia berbunyi. Lanjut, kita akan masukkan The Giant ke chain nomor 2.
Caranya sama, tambahkan external instruments baru, arahkan ke The Giant, lalu tarik chain nya ke nomor 2.

Hasil akhirnya seperti ini.

The Giant akan hidup jika chain selector dipindah ke nomor 2. Pada gambar di atas, chain selector ada pada The Grandeur. Note on dan off akan tetap dikirim pada tempatnya, jadi kalau kamu mensustain note pada The Grandeur, lalu kamu pindah ke The Giant lalu sustain off, The Grandeur akan tetap mati secara natural.

Mau tambah instruments lagi? Bisa. Chain Selector bisa sampai 127 (sesuai nilai MIDI), dan kalaupun sudah habis … Tambah saja MIDI track baru.

Dan kemudian masalah baru muncul kalau kamu pakai Instruments nya ableton (bukan VST).

Perhatikan kalau Analog tidak muncul pada External Instruments. Solusinya adalah, jangan pakai External Instruments. Langsung letak Analognya disitu.

Ini bukan berarti jadi solusi untuk segalanya. Kalau gini, kamu ga bisa pakai Send effects, karena kalau kamu pakai Send, semua sampai The Grandeur dan The Giant akan kena send. Solusinya, gunakan effect yang punya kemampuan wet/dry signal. Tapi gak semua effect punya.

Tujuan menggunakan External Instruments disini adalah, untuk menambah fleksibilitas effect dan juga bisa untuk mengurangi memori. Satu instance kontakt menggunakan 80mb, dan sebenarnya The Grandeur dan The Giant bisa digabung dalam satu instance. Hanya saja, untuk memisahkan 2 instrument kontakt dalam 1 plugin ke dalam 2 track mixer, agak susah. Kapan kapan saja kita bahas di posting lainnya.

Lanjut, sekarang gimana cara manggil patch dengan mudah?
Pertama, akan sangat sangat membantu kalau kamu punya Launchpad, walau yang termurah sekalipun.

Ini yang nomor 2 termahal.

Inilah kegunaan launchpad yang sesungguhnya, alasan pertama kali dia diciptakan. Bukan untuk Kaskobi.

(Serius, bantuin aku beli Launchpad dong. Aku kere, bahkan Live Suite punyaku aja versi educational, yang khusus pelajar / mahasiswa. Belinya bekas lagi. )

Oke, sudah sudah. Cukup ngirinya sama orang.

Balik ke Ableton, double click pada salah satu scene, untuk buat scene baru. 

Lihat, scene baru sudah dibuat.

Buka halaman Launch sama Envelope dibawah.

Cek pada Launch -> Quantization.
None berarti clip langsung dijalankan begitu ditekan.
Global biasanya clip akan dijalankan pada ketukan pertama dalam bar.
Sisanya, bergantung pada ketukan juga. Karena kita akan buat patch switching, kita buat ke None. (kecuali kamu lagi bikin sequencer dan auto change program, beda cerita)

Lanjut ke Envelopes, pilih Instrument Rack dan Chain Selector.

Klik pada garis merah untuk memindahkan nilainya. Misalnya, 0 buat mati.

Diatas akan selalu ada nilai chain nya, yang akan membantu kamu. Jadi ga perlu ngira ngira.

Kembali ke clip launcher, klik clipnya, Klik kanan lalu Rename. Ganti namanya jadi Off.

Clip ini bisa di copy paste, lalu diubah nilai chain nya. Begini hasil akhirnya nanti.

Begitu ditekan, patch akan berubah langsung tanpa nunggu.

Lanjut, kamu juga bisa buat instrument rack lagi buat yang lain, misalnya khusus Rhodes dan FM E Piano. Atau untuk Strings dan Brass. Atau apalah, kemungkinannya tidak ada batas.

Kalau kamu punya Launchpad, bersyukurlah! Tinggal colok, maka patch switching nya bisa dijalankan dengan Launchpad! Kalau kamu miskin seperti saya, ada jalan lain.

  1. Kamu bisa computer keyboard mapping.
  2. Kamu bisa pakai MIDI mapping.

Pertama, computer keyboard mapping dulu buat yang benar benar miskin. Klik Key di ujung atas kanan Ableton.

Lalu, klik pada salah satu clip, lalu tekan salah satu tombol pada keyboard.

Contoh hasilnya sebagai berikut. Tekan Q, maka keys akan off. Tekan S, maka The Grandeur akan berbunyi, dan seterusnya.

MIDI mapping juga mirip. Gunakan controller MIDI yang murah, lalu aktifkan Remote pada preferences.

Cara mappingnya pun mirip. Kalau tadi click key, sekarang click MIDI di sebelahnya.

Lalu akan muncul seperti ini.

Klik pada salah satu clip, lalu tekan tombol pada MIDI controller. Setelah itu, MIDI clip tersebut bisa dipanggil dengan tombol itu.

Lalu, untuk peletakan MIDI effect. Buat instruments baru pada Instrument Rack, lalu tambahkan MIDI effect di depannya. Dan untuk meletakkan Audio effect, JANGAN PERNAH letakkan Audio effect langsung diluar instrument rack! Letakkan Audio effect setelah instrument. Yang berarti jika kamu memakai External Instruments, letakkan setelah VST.

Sekian tutorial hari ini. :)

 

Source

Blog ini sekarang menggunakan HTTPS!

Sumber gambar : w3guy

 

WordPress mulai mewajibkan penggunanya untuk menggunakan HTTPS. Matt Mullenweg, pencipta WordPress, menyatakan kalau sekarang beberapa fungsi pada WordPress memerlukan HTTPS.

Kenapa HTTPS?

  1. Google lebih suka HTTPS.
    Nilai website di mata Google yang mempunyai SSL akan lebih tinggi dibandingkan yang tidak pakai. Google Chrome juga sekarang jelas jelas menampilkan “Not Secure” pada website yang tidak menggunakan HTTPS. 
  2. Pengguna juga lebih suka HTTPS.
    HTTPS juga menjadi indikator kalau kamu serius dalam membuat website. Menggunakan HTTPS, kamu dapat menambah waktu pengguna di websitemu.
    HTTPS juga SANGAT PENTING pada website website e-commerce.

2 alasan diatas sebenarnya sudah cukup untuk pindah ke SSL. Masih kurang?
Let’s Encrypt adalah sertifikat SSL gratis, yang bisa digunakan oleh siapa saja. Masih susah? CloudFlare juga bisa memakai SSL, walaupun servermu tidak punya SSL. Hanya saja, sedikit lebih tidak aman.

Intinya cuma satu. Gak rugi kok pakai SSL. Kecuali kalau kita kembali ke 5-6 tahun lalu dimana yang jual SSL harganya ga pake otak.

Source

Cara mengkonfigurasi W3 Total Cache dan Google Cloud Storage sebagai CDN

Google Cloud Storage memungkinkan penyimpanan dan pengambilan seluruh dunia dari sejumlah data kapan saja. Anda dapat menggunakan Google Cloud Storage untuk berbagai skenario termasuk menyajikan konten situs web, menyimpan data untuk arsip dan pemulihan bencana, atau mendistribusikan objek data besar ke pengguna melalui unduhan langsung. (diambil dari dokumentasi Google Cloud Storage)

Posting sebelumnya mengatakan kalau aku bakal pindah ke Google AppEngine. Setelah diujicoba berkali kali, tampaknya agak susah untuk diimplementasikan, karena satu dan lain hal. Tapi, Google Cloud bukan cuma AppEngine doang kok.

Google Cloud Storage memiliki kecepatan yang sangat tinggi, dikarenakan file bisa direplikasi di berbagai tempat. Ditambah lagi dengan konfigurasi yang mudah, dan juga kompatibel dengan Amazon S3, membuat konfigurasi terhadap sistem yang sudah ada semakin mudah.

W3 Total  Cache (biasa disingkat W3tc) adalah produk dari W3 Edge, yang memiliki kemampuan mencache file dan mengirimkan file ke CDN. Kali ini, kita tidak akan membahas konfigurasi cachenya, tapi kita akan bahas konfigurasi CDN nya ke Google Cloud Storage.
W3tc sendiri tidak mensupport Google Cloud Storage, tapi karena dia kompatibel dengan Amazon S3 (dan juga S3-compatible), kita bisa menggunakannya sebagai CDN.

Langkah langkahnya adalah sebagai berikut.

Pertama, masuk ke menu Storage -> Browser

Lalu, kita akan membuat bucket baru.

Saat pembuatan, nama harus unik. Nama bucket yang saya buat adalah rinaldoid-public.

Untuk storage class, bisa pilih multi regional, atau regional. Keduanya cukup cepat. Aku sarankan multi regional agar file disimpan di lebih dari 1 region.

Untuk lokasi, pilih yang dekat dengan kita, atau dengan pengunjung. Dikarenakan blog ini kebanyakan berbahasa Indonesia, saya memilih Asia. Lagipula, harganya sama saja.
Lebih lanjut tentang harga bisa dilihat langsung di dokumentasinya Google. 

Lanjut, setelah dibuat, kita perlu memberikan hak akses supaya seluruh dunia bisa membaca file yang kita upload disini.

Caranya, kembali ke menu storage browser tadi. Harusnya sudah ada bucket yang kita buat tadi.

Klik menu pada bucket kita, lalu klik Edit bucket permissions.

Tambahkan allUsers, lalu beri ijin Storage Object Viewer, lalu Add.

 

Setelah itu, masuk panel General Settings W3 Total Cache di WordPress.

Enable CDN, lalu pilih Amazon Simple Storage Services (S3) Compatible), lalu klik Save all settings.

Sekarang, masuk ke menu CDN.

Ini halaman CDN pada w3tc.

API host, isikan dengan storage.googleapis.com.
Bucket, isikan dengan nama bucket yang kita buat tadi. Untuk blog ini, namanya rinaldoid-public.
Replace site’s hostname dengan .storage.googleapis.com

Untuk Access key ID dan Secret Key, masuk ke Cloud Storage Settings di Google Cloud.
Pertama kali masuk, kita akan diminta memilih project. Pilih project tempat bucket tadi.

Setelah itu, masuk menu Interoperability. Access key dan secret ada di dalamnya.

Salin kode ini ke w3tc. Lalu klik Save all settings.

Setelah itu, klik Test S3 upload. Jika berhasil, akan muncul Test passed.

bisa dilanjutkan dengan mengexport media library, wp-includes, file tema, dan custom files.

Setelah semua file telah diupload, klik Empty the page cache.

Setelah itu, CDN sudah hidup!

Source